Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang dialami oleh manusia sekarang ini, tidak sedikit dampak negatifnya terhadap sikap hidup dan perilakunya; baik ia sebagai manusia yang beragama, maupun sebagai makhluk individual dan sosial. Dampak negatif yang paling berbahaya terhadap kehidupan manusia atas kemajuan yang dialaminya, ditandai dengan adanya kecenderungan menganggap bahwa satu-satunya yang dapat membahagiakan hidupnya adalah nilai material. Sehingga manusia terlampau mengejar materi, tanpa menghiraukan nilai-nilai spiritual yang sebenarnya berfungsi untuk memelihara dan mengendalikan akhlak manusia.
Nilai-nilai spiritual yang dimaksudkan dalam Islam adalah ajaran agama yang berwujud perintah, larangan dan anjuran; yang kesemuanya berfungsi untuk membina kepribadian manusia dalam kaitannya sebagai hamba Allah serta anggota masyarakat.
Mengejar nilai-nilai material saja, tidak bisa dijadikan sarana untuk mencapai kebahagiaan hakiki. Bahkan hanya menimbulkan bencana yang hebat, karena orientasi hidup manusia semakin tidak mempedulikan kepentingan orang lain, asalkan materi yang dikejar-kejarnya dapat dikuasainya dan akhirnya timbul persaingan hidup yang tidak sehat. Sementara manusia tidak memerlukan lagi agama untuk mengendalikan segala perbuatannya, karena dianggapnya tidak dapat digunakan untuk memecahkan persoalan hidupnya.
Disini kita akan tahu betapa pentingnya aqidah dalam kehidupan modern ini. Aqidah akan menjadi benteng yang kuat dalam menghadapi segala dampak negatif kehidupan modern ini. Disampaing aqidah yang kuat, akhlak yang terpuji akan menyelamatkan manusia dari segala macam perbuatan dan tindakan yang bisa menjerumuskan manusia dalam kesesatan.
Aqidah akhlak terdiri dari dua kata yaitu aqidah dan akhlak. Secara etimologis, Aqidah berasal dari kata aqada – ya’qidu (kamus Al-Munawwir) yang berarti simpul, ikatan, perjanjian, dan kokoh. Setelah menjadi aqidah adalah keyakinan itu tersimpul dengan kokoh dalam hati, bersifat mengikat dan mengandung perjanjian.
Mahmud Syaltut mendefinisikan bahwa aqidah Islam adalah “suatu sistem kepercayaan dalam Islam, yakni sesuatu yang harus diyakini sebelum apa-apa dan sebelum melakukan apa-apa tanpa ada keraguan sedikitpun dan tanpa ada unsur yang mengganggu kebersihan keyakinan.
Adapun pengertian akhlak secara bahasa adalah budi pekerti, perangai, tingkah laku atau tabiat. Sedangkan menurut Imam Ghozali, akhlak adalah sifat yang tertanam dalam jiwa manusia yang dapat meniumbulkan perbuatan dengan gampang dan mudah tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan.
Sedangkan fungsi aqidah akhlak dalam Islam antara lain adalah sebagai berikut:
1. untuk berbuat baik kepada Sang Pencipta
2. Untuk menyelamatkan diri dari segala dosa
3. Untuk selalu bertindak baik kepada sesama manusia
4. Untuk dapat memberatkan timbangan kebaikan di hari akhir
Pelajaran aqidah akhlak merupakan bagian fundamental bagi setiap orang-orang yang beriman. Pelajaran Aqidah Akhlak merupakan penjabaran materi yang ada di Kurikulum 2004. Dengan akhlak yang mulia dapat membuahkan kesadaran diri yang tinggi, memberi motivasi, menjalin tali persaudaraan antar sesama umat manusia. Dalam Hadits Nabi diterangkan sebagai berikut:
إنَّمَا بُعِثتُ ِلأُتمِّمَ مَكَارِمَ الأَخلاقِ (رواه البخارى حاكم وبيهقى)
Artinya:
“Sesungguhnya Aku (Muhammad) diutus ke dunia ini untuk menyempurnakan Akhlak yang mulia”. (H. R. Bukhori, Hakim dan Baihaqi)
Hadits ini menerangkan bahwa Rosulullah diutus oleh Allah di muka bumi ini untuk memperbaiki atau menyempurnakan akhlak umat manusia. Sehingga sangat diharuskan setiap umat manusia berakhlak mulia dan tidak berakhlak buruk atau tercela.
Dalam agama Islam, orang Islam sangat dianjurkan untuk bisa hidup kreatif dan orang kreatif cenderung suka memberikan manfaat terhadap orang lain. Contoh mengutamakan orang lain, meringankan beban orang lain, tidak menjadi beban orang lain, ramah tamah dan selalu menjaga kebiasaan baik yang berdasar norma-norma Islam.
Contoh perilaku yang terpuji dan akhlakul karimah:
1. Tolong menolong dalam kebaikan.
Dalam kehidupan beragama dan bermasyarakat manusia diwajibkan untuk hidup damai, guyup dan rukun saling menghargai, saling menghormati dan saling bantu membantu dalam kebaikan dan kebenaran. Hal yang demikian ini termasuk sebagian dari kunci ketentraman Negara. Sebagaimana firman Allah SWT dalam surat Al-Maidah ayat yang artinya:
"Dan tolong menolonglah kamu dalam kebajikan dan takwa dan jangan tolong menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran (permusuhan)”. (Q.S Al Maidah: 2)
Dari ayat tersebut jelas bahwa manusia untuk selalu berbuat yang baik, terpuji dan dilarang untuk menolong dalam perbuatan yang dilarang oleh agama ataupun Negara.
2. Menjalin tali persaudaraan. Sabda Rosulullah Saw.
Dalam Islam sangat dianjurkan untuk melestarikan hubungan tali persaudaraan (ukhuwah islamiyah). Sebagaimana sabda Rasululloh SAW:
مَن أحَبَّ أن يُبسَطَ لَهُ فِى رِزقِهِ وَ أن يُنسَأ لَهُ فِى آثَرِهِ فَليَصِّل رَحِمَهُ (رواه البخارى)
Artinya:
“Barang siapa yang ingin diluaskan rizkinya dan dipanjangkan umurnya maka bersilaturohmilah”. (H.R. Bukhori)
Dari hadits ini ternyata mengandung hikmah yang sangat bermanfaat. Allah akan melapangkan rizkinya, hartanya, kekayaanya dan masih akan ditambah panjang umurnya, selagi tidak malas-malas bersilaturahmi.
3. Berbuat baik kepada kedua orang tua.
Kedua orang tua adalah sebagai lantaran terjadinya atau adanya manusia. Maka sangat dosa bagi mereka yang tidak berlaku sopan kepada kedua orang tuanya.
Nabi Muhammad SAW menganjurkan untuk beramal sholeh dan mendoakan kepadanya. Sebagaimana hadits nabi yang di riwayatkan oleh Bukhori yang artinya:
“Apabila anak cucu adam itu meninggal, maka putuslah segala amalnya, kecuali 3 perkara, yaitu shodaqoh jariyah, atau ilmu yang bermanfaat atau anak sholeh yang mendo’akan kepadanya.”
22 Maret 2009
21 Maret 2009
Membangun Karakter Guru Melalui Sholat
A. Pendahuluan
Pribadi muslim yang hakiki adalah pribadi yang telah memiliki ESQ paripurna yaitu telah memiliki, pertama: 6 prinsip moral meliputi star principle, angel principle, leadership principle, learning principle, vision principle, well organized principle atau lebih familiar dengan sebutan 6 Rukun Iman. Kedua: dalam pelaksanaan pada dimensi fisik memiliki 5 pedoman (Rukun Islam) yang memiliki tujuan utama memelihara dan menjaga hubungan vertical (nilai-nilai dasar spiritual/ core value) dan hubungan horizontal (core purposes):
1. Syahadat ; penetapan misi (mission statement)
2. Sholat ; pembangunan karakter (character building)
3. Puasa ; pengendalian diri (self controlling)
4. Zakat ; sinergi (strategic controlling)
5. Haji ; aplikasi total (total action)
B. Peran Sholat Dalam Pembangunan Karakter Manusia
Sholat adalah metode relaksasi untuk menjaga kesadaran diri agar tetap memiliki cara berfikir yang jernih. Sholat adalah suatu langkah untuk membangun kekuatan afirmasi. Sholat adalah sebuah metode yang dapat meningkatkan kecerdasan emosi dan spiritual secara terus-menerus. Sholat adalah teknik pembentukan pengalaman yang membangun suatu paradigma positif dan sholat adalah suatu cara untuk terus mengasah dan mempertajam ESQ yang diperoleh dari Rukun Iman.
1. Metode Relaksasi
Dalam tekanan pekerjaan sehari-hari pikiran seseorang kadang terhanyut dan terdesak untuk menyelesaikan berbagai tugas yang datang secara silih berganti, dan pada saat yang bersamaan memikirkan langkah-langkah lain yang juga harus diatasi satu persatu. Hal ini menjadi tampak bodoh dan serba salah sampai-sampai pada kondisi “buta” emosi.
Kita perlu mengistirahatkan pikiran kita, kita perlu relaksasi sejenak dengan melakukan sholat, memdengarkan kembali suara-suara hati yang acapkali memberikan bisikan-bisikan ilahiyah, menyambutnya dengan kejernihan pikiran sehingga kita akan menjadi peka kembali.
2. Membangun Kekuatan Afirmasi
Penetapan misi (syahadat ) perlu dilanjutkan dengan proses yang dilakukan secara terus menerus melalui gerak sholat. Melalui sholat, seseorang akan memvisualisasikan ke-6 prinsip hidupnya. Dengan beberapa menit sehari untuk melakukan sholat membuat pikiran jadi lebih rileks setelah itu dapat berpikir tentang dirinya sendiri dan pemecahan-pemecahan masalah dalam lingkungan nya secara jernih.
3. Meningkatkan Kecerdasan ESQ
kecerdasan ESQ bersumber dari suara hati. Suara hati ternyata cocok dengan nama serta sifat-sifat ilahiyah yang terekam dalam jiwa setiap manusia.
Sholat berisikan pokok-pokok pikiran serta bacaan suci mengenai suara-suara hati itu sendiri. Jika dilaksanakan dengan khusyu` dengan menyelami permasalahan hati serta menemukan sifat-sifat ilahiyah yang berada di dasar hati untuk kemudian mengangkatnya ke permukaan, maka sholat akan menjadi solusi “energizing” yang akan mengisi jiwa baik sadar maupun tidak sadar melalui makanisme yang berujung pada pemilihan tingkat ESQ yang tinggi (berakhlak mulia) yang merupakan syarat utama keberhasilan.
4. Membangun Pengalaman Positif
Untuk mengantisipasi serta menyeimbangkan sisi emosional kita, dibutuhkan pengalaman-pengalaman positif sebagai `penawar/penyelaras` yang dapat menetralkan kembali dampak lingkungan yang telah mempengaruhi hati serta pikiran kita. Dengan melakukan sholat secara rutin, maka sesungguhnya kita menciptakan pengalaman batiniyah sekaligus pengalaman fisik.
5. Pembangkit Dan Penyeimbang Energi Batiniah
Disamping sebagai tempat untuk menyeimbangkan dan menyelaraskan hati, pikiran dan pelaksanaan, sholat juga bisa menambah energi baru yang terakumulasi menjadi kumpulan dorongan dahsyat untuk segera berkarya (beribadah) dan mengaplikasikan pemikirannya kedalam alam realita. Energi ini akan berubah menjadi perjuangan nyata dalam menjaankan misi sebagai rohmatan lil’alamin. Sholat akan menghasilkan sumber daya manusia yang di ilhami cahaya Alloh yang akan turut berperan untuk memakmurkan bumi.
Disinilah letak keseimbangan hidup yang sesungguhnya, keseimbangan antara hat serta pikiran, keseimbangan antara pikiran dan tindakan. Keseimbangan ini tidak bersifat statis seperti garis yang mendatar, tetapi seperti garis yang condong mengarah keatas, kegiatan sholat itu sendiri akan meningkatkan dorongan dan energi dari waktu kewaktu.
6. Pengasahan Prinsip
Sholat adalah pelatihan menyeluruh untuk menjaga serta meningkatkan kualitas kejernihan emosi dan spiritual seseorang. Mulai dari penjernihan emosi dan pelatihan prinsip satu sampai prinsip enam semua dilatih dalam sholat.
7. Pelatihan Ketangguhan Social
Salah satu warisan anatomis dasar dahsyat yang membuat orang merasa perlu membentuk kelompok adalah neocortex, atau lapisan paling atas pada kotak yakni bagian yang memberi kita kemampuan berfikir. Berdasarkan pandangan para ahli neocortex akan makin membesar dibanding dengan besarnya kelompok yang mempu dibentuk, maka baik sholat jama’ah dirumah ataupun dimasjid akan membangun kecerdasan social manusia melalui peningkatan neocortex yang memberi serta meningkatkan kemampuan berfikir, kemampuan bersosialisasi dan bersinergi.
8. Adzan
Adzan yang dikumandangkan secara antusias lima kali dalam sehari akan mampu menularkan emosi dari isi ucapan adzan itu sendiri. Isi adzan secara keseluruhan akan mampu mempengaruhi serta membangkitkan semangat seseorang untuk meraih kemenangan dan memegang prinsip.
9. Garis Orbit Dan Makna Kiblat
Sederhananya, karakter pribadi harus tetap beredar pada garis orbit yang selalu mengelilingi titik Tuhan. Karakter yang harus selalu sesuai dengan suara hati dalam god spot dan dengan enam azas rukun iman yang dikelilinginya lima kali sehari semalam. Tapi terlalu banya orang yang beredar diluar garis orbit meski fisiknya sudah melakukannya lima kali sehari semalam, namun jiwa, pikiran serta tingkah lakunya mengorbit dan terpusat kepada prinsip yang lain.
C. Mekanisme Pembentukan Karakter
1. Pelatihan Penjernihan Emosi (zero mind process)
Beberapa hal dalam sholat yang bisa melatih serta menjaga kejernihan hati dan pikiran adalah sbb:
a. Wudlu
Membasuh wajah melambangkan penjernihan dan penyucian hati serta pikiran. Membasuh tangan melambangkan penyucian segala kegiatan. Mengusap kepala melambangkan pikiran yang suci dan membasuh kaki melambangkan langkah lurus nan suci.
b. Doa iftitah
Doa ini diucapkan diawal setiap kali sholat, merupakan pujian dan pengakuan kepada Tuhan, Rabb yang selalu suci dalam berfikir dan suci bertindak secara sadar atau melalui pikiran bawah sadar doa ini akan mengubah atau menjaga sikap dan karakter seseorang agar selalu suci dan bersih. Inilah landasan kecerdasaan emosi dan spiritual yaitu kemampuan untuk bebas dan merdeka dari belenggu hati dan pikiran, dimana hasil akhir yang diharapkan adalah sebuah fitrah atau hati bersih yang sangat cerdas.
c. Ruku dan sujud
Dalam ruku dan sujud dilafadzkan keinginan dan pujian memuji kepada Alloh dapat diartikan bahwa seseorang yang melakukan sholat sangat menjunjung tinggi sifat jernih dan suci yang pada akhirnya menghasilkan keagungan.
2. Melatih prinsip bintang/ prinsip satu (star principle)
Disilah landasan dari segala landasan kecerdasan emosi serta spiritual, ketenteraman, kebijaksanaan, kepercayaan diri, integritas, dan motivasi. Sholat adalah kunci dari pembangunan dan pelatihan prinsip yaitu beriman dan tunduk kepada Alloh. Sekaligus bertujuan untuk membuka kembali sumber-sumber suara hati agar terus memberikan dan membimbing hidup, disamping juga melatih pendengaran hati agar peka dan mampu mendengar bisikan bawah sadar yang merupakan sumber bimbingan dan petunjuk.
3. Melatih dan membangun prinsip kepercayaan/ prinsip kedua (angle principle)
Kepercayaan adalah upaya yang merupakan hasil imbal balik bagi seseorang yang telah menunjukkan integritas, komitmen dan loyalitas. Sholat adalah bentuk integritas seorang mukmin kepada Alloh sekaligus komitmen tunggal dan loyalitas tunggal hanya kepada Alloh.
4. Melatih prinsip kepemimpinan/ prinsip ketiga (Leadhership principle)
Kepemimpinan berangkat dari kepercayaan yang terbentuk dari sifat rahman dan rahimNYA, integritas, bimbingan dan kepribadian. Sholat adalah bentuk pelatihan mental yang menghasilkan manusia yang bersifat rahman rahim, serta pembentukan integritas dan kepribadian.
5. Melatih prinsip pembelajaran/ prinsip empat (learning principle)
Pada setiap kali sholat diwajibkan untuk membaca dan menghayati surat Al-Fatihah. Isi Al-Fatihah secara umum adalah sebagai dasar sikap, pujian atas sifat-sifat yang mulia (sumber ESQ), bekal/ prinsip memberi, visi, integritas, aplikasi, penyempurnaan dan evaluasi, serta prinsip ikhlas. Apabila dihayati, Al-Fatihah ini merupakan bimbingan total dari pembangunan hati dan pikiran (iman), pelaksanan (islam), dan penyempurnaan (ihsan).
6. Melatih prinsip visualisasi dan simulasi/ prinsip lima (vision principle)
Sholat adalah sebuah visualisi atau simulasi kehidupan dan idealisme sebuah cita-cita luhur. Visi inilah pembimbang kehidupan. Semakin kuat visualisasi seseorang akan cita-citanya, maka semakin kuat juga keyakinan seseorang untuk meraihnya. Semakin kuat keyakinan seseorang, maka semakin tinggi juga energi dam kekuatan seseorang untuk meraih impiannya.
7. Melatih prinsip keteraturan/ prinsip enam (well organized principle)
Kunci dari prinsip keteraturan adalah sebuah disiplin. Tanpa sebuah kedisiplinan, maka tatanan akan hancur. Sholat adalah sarana untuk melatih sebuah kedesiplinan. Waktu sholat telah ditentukan dengan pasti, sehingga orang yang mampu melakukan sholat secara disiplin niscaya akan menjadi pribadi-pribadi yang memiliki disiplin tinggi.
D. Pengaruh Pembangunan Karakter Terhadap Profesi Guru
Apabila ditelusuri secara mendalam, proses belajar mengajar yang merupakan inti dari proses pendidikan formal disekolah didalamnya terjadi interaksi antara berbagai komponen pengajaran. Komponen-komponen itu adalah; (1) Guru; (2) Isi atau materi pelajaran; dan (3) Siswa. Interaksi antara ketiga komponen itu melibatkan sarana dan prasarana, seperti metode, media, dan penataan lingkungan, sehingga tercipta situasi belajar mengajar yang memungkinkan tercapainya tujuan yang telah direncanakan sebelumnya. Dengan demikian guru memegang peranan sentral dalam proses belajar mengajar.
Mengingat pentingnya tugas guru, maka guru harus memiliki sifat-sifat khusus atau karakter yang memungkinkan dalam pelaksanaan tugasnya bisa berjalan dengan sebaik-baiknya. Sifat-sifat itu diantaranya adalah:
1. Berair muka yang jernih (tidak murung)
2. Bersifat sabar
3. Bersungguh-sungguh dalam menjalankan tugasnya
4. Suaranya jelas dan berwibawa
5. Mampu memperhatikan dan mengendalikan kelas
Kaitannya dengan pembangunan karakter (caracter building) melalui sholat dengan profesi guru adalah, bahwa jika kita perhatikan akan pentingnya peranan guru dan
Pribadi muslim yang hakiki adalah pribadi yang telah memiliki ESQ paripurna yaitu telah memiliki, pertama: 6 prinsip moral meliputi star principle, angel principle, leadership principle, learning principle, vision principle, well organized principle atau lebih familiar dengan sebutan 6 Rukun Iman. Kedua: dalam pelaksanaan pada dimensi fisik memiliki 5 pedoman (Rukun Islam) yang memiliki tujuan utama memelihara dan menjaga hubungan vertical (nilai-nilai dasar spiritual/ core value) dan hubungan horizontal (core purposes):
1. Syahadat ; penetapan misi (mission statement)
2. Sholat ; pembangunan karakter (character building)
3. Puasa ; pengendalian diri (self controlling)
4. Zakat ; sinergi (strategic controlling)
5. Haji ; aplikasi total (total action)
B. Peran Sholat Dalam Pembangunan Karakter Manusia
Sholat adalah metode relaksasi untuk menjaga kesadaran diri agar tetap memiliki cara berfikir yang jernih. Sholat adalah suatu langkah untuk membangun kekuatan afirmasi. Sholat adalah sebuah metode yang dapat meningkatkan kecerdasan emosi dan spiritual secara terus-menerus. Sholat adalah teknik pembentukan pengalaman yang membangun suatu paradigma positif dan sholat adalah suatu cara untuk terus mengasah dan mempertajam ESQ yang diperoleh dari Rukun Iman.
1. Metode Relaksasi
Dalam tekanan pekerjaan sehari-hari pikiran seseorang kadang terhanyut dan terdesak untuk menyelesaikan berbagai tugas yang datang secara silih berganti, dan pada saat yang bersamaan memikirkan langkah-langkah lain yang juga harus diatasi satu persatu. Hal ini menjadi tampak bodoh dan serba salah sampai-sampai pada kondisi “buta” emosi.
Kita perlu mengistirahatkan pikiran kita, kita perlu relaksasi sejenak dengan melakukan sholat, memdengarkan kembali suara-suara hati yang acapkali memberikan bisikan-bisikan ilahiyah, menyambutnya dengan kejernihan pikiran sehingga kita akan menjadi peka kembali.
2. Membangun Kekuatan Afirmasi
Penetapan misi (syahadat ) perlu dilanjutkan dengan proses yang dilakukan secara terus menerus melalui gerak sholat. Melalui sholat, seseorang akan memvisualisasikan ke-6 prinsip hidupnya. Dengan beberapa menit sehari untuk melakukan sholat membuat pikiran jadi lebih rileks setelah itu dapat berpikir tentang dirinya sendiri dan pemecahan-pemecahan masalah dalam lingkungan nya secara jernih.
3. Meningkatkan Kecerdasan ESQ
kecerdasan ESQ bersumber dari suara hati. Suara hati ternyata cocok dengan nama serta sifat-sifat ilahiyah yang terekam dalam jiwa setiap manusia.
Sholat berisikan pokok-pokok pikiran serta bacaan suci mengenai suara-suara hati itu sendiri. Jika dilaksanakan dengan khusyu` dengan menyelami permasalahan hati serta menemukan sifat-sifat ilahiyah yang berada di dasar hati untuk kemudian mengangkatnya ke permukaan, maka sholat akan menjadi solusi “energizing” yang akan mengisi jiwa baik sadar maupun tidak sadar melalui makanisme yang berujung pada pemilihan tingkat ESQ yang tinggi (berakhlak mulia) yang merupakan syarat utama keberhasilan.
4. Membangun Pengalaman Positif
Untuk mengantisipasi serta menyeimbangkan sisi emosional kita, dibutuhkan pengalaman-pengalaman positif sebagai `penawar/penyelaras` yang dapat menetralkan kembali dampak lingkungan yang telah mempengaruhi hati serta pikiran kita. Dengan melakukan sholat secara rutin, maka sesungguhnya kita menciptakan pengalaman batiniyah sekaligus pengalaman fisik.
5. Pembangkit Dan Penyeimbang Energi Batiniah
Disamping sebagai tempat untuk menyeimbangkan dan menyelaraskan hati, pikiran dan pelaksanaan, sholat juga bisa menambah energi baru yang terakumulasi menjadi kumpulan dorongan dahsyat untuk segera berkarya (beribadah) dan mengaplikasikan pemikirannya kedalam alam realita. Energi ini akan berubah menjadi perjuangan nyata dalam menjaankan misi sebagai rohmatan lil’alamin. Sholat akan menghasilkan sumber daya manusia yang di ilhami cahaya Alloh yang akan turut berperan untuk memakmurkan bumi.
Disinilah letak keseimbangan hidup yang sesungguhnya, keseimbangan antara hat serta pikiran, keseimbangan antara pikiran dan tindakan. Keseimbangan ini tidak bersifat statis seperti garis yang mendatar, tetapi seperti garis yang condong mengarah keatas, kegiatan sholat itu sendiri akan meningkatkan dorongan dan energi dari waktu kewaktu.
6. Pengasahan Prinsip
Sholat adalah pelatihan menyeluruh untuk menjaga serta meningkatkan kualitas kejernihan emosi dan spiritual seseorang. Mulai dari penjernihan emosi dan pelatihan prinsip satu sampai prinsip enam semua dilatih dalam sholat.
7. Pelatihan Ketangguhan Social
Salah satu warisan anatomis dasar dahsyat yang membuat orang merasa perlu membentuk kelompok adalah neocortex, atau lapisan paling atas pada kotak yakni bagian yang memberi kita kemampuan berfikir. Berdasarkan pandangan para ahli neocortex akan makin membesar dibanding dengan besarnya kelompok yang mempu dibentuk, maka baik sholat jama’ah dirumah ataupun dimasjid akan membangun kecerdasan social manusia melalui peningkatan neocortex yang memberi serta meningkatkan kemampuan berfikir, kemampuan bersosialisasi dan bersinergi.
8. Adzan
Adzan yang dikumandangkan secara antusias lima kali dalam sehari akan mampu menularkan emosi dari isi ucapan adzan itu sendiri. Isi adzan secara keseluruhan akan mampu mempengaruhi serta membangkitkan semangat seseorang untuk meraih kemenangan dan memegang prinsip.
9. Garis Orbit Dan Makna Kiblat
Sederhananya, karakter pribadi harus tetap beredar pada garis orbit yang selalu mengelilingi titik Tuhan. Karakter yang harus selalu sesuai dengan suara hati dalam god spot dan dengan enam azas rukun iman yang dikelilinginya lima kali sehari semalam. Tapi terlalu banya orang yang beredar diluar garis orbit meski fisiknya sudah melakukannya lima kali sehari semalam, namun jiwa, pikiran serta tingkah lakunya mengorbit dan terpusat kepada prinsip yang lain.
C. Mekanisme Pembentukan Karakter
1. Pelatihan Penjernihan Emosi (zero mind process)
Beberapa hal dalam sholat yang bisa melatih serta menjaga kejernihan hati dan pikiran adalah sbb:
a. Wudlu
Membasuh wajah melambangkan penjernihan dan penyucian hati serta pikiran. Membasuh tangan melambangkan penyucian segala kegiatan. Mengusap kepala melambangkan pikiran yang suci dan membasuh kaki melambangkan langkah lurus nan suci.
b. Doa iftitah
Doa ini diucapkan diawal setiap kali sholat, merupakan pujian dan pengakuan kepada Tuhan, Rabb yang selalu suci dalam berfikir dan suci bertindak secara sadar atau melalui pikiran bawah sadar doa ini akan mengubah atau menjaga sikap dan karakter seseorang agar selalu suci dan bersih. Inilah landasan kecerdasaan emosi dan spiritual yaitu kemampuan untuk bebas dan merdeka dari belenggu hati dan pikiran, dimana hasil akhir yang diharapkan adalah sebuah fitrah atau hati bersih yang sangat cerdas.
c. Ruku dan sujud
Dalam ruku dan sujud dilafadzkan keinginan dan pujian memuji kepada Alloh dapat diartikan bahwa seseorang yang melakukan sholat sangat menjunjung tinggi sifat jernih dan suci yang pada akhirnya menghasilkan keagungan.
2. Melatih prinsip bintang/ prinsip satu (star principle)
Disilah landasan dari segala landasan kecerdasan emosi serta spiritual, ketenteraman, kebijaksanaan, kepercayaan diri, integritas, dan motivasi. Sholat adalah kunci dari pembangunan dan pelatihan prinsip yaitu beriman dan tunduk kepada Alloh. Sekaligus bertujuan untuk membuka kembali sumber-sumber suara hati agar terus memberikan dan membimbing hidup, disamping juga melatih pendengaran hati agar peka dan mampu mendengar bisikan bawah sadar yang merupakan sumber bimbingan dan petunjuk.
3. Melatih dan membangun prinsip kepercayaan/ prinsip kedua (angle principle)
Kepercayaan adalah upaya yang merupakan hasil imbal balik bagi seseorang yang telah menunjukkan integritas, komitmen dan loyalitas. Sholat adalah bentuk integritas seorang mukmin kepada Alloh sekaligus komitmen tunggal dan loyalitas tunggal hanya kepada Alloh.
4. Melatih prinsip kepemimpinan/ prinsip ketiga (Leadhership principle)
Kepemimpinan berangkat dari kepercayaan yang terbentuk dari sifat rahman dan rahimNYA, integritas, bimbingan dan kepribadian. Sholat adalah bentuk pelatihan mental yang menghasilkan manusia yang bersifat rahman rahim, serta pembentukan integritas dan kepribadian.
5. Melatih prinsip pembelajaran/ prinsip empat (learning principle)
Pada setiap kali sholat diwajibkan untuk membaca dan menghayati surat Al-Fatihah. Isi Al-Fatihah secara umum adalah sebagai dasar sikap, pujian atas sifat-sifat yang mulia (sumber ESQ), bekal/ prinsip memberi, visi, integritas, aplikasi, penyempurnaan dan evaluasi, serta prinsip ikhlas. Apabila dihayati, Al-Fatihah ini merupakan bimbingan total dari pembangunan hati dan pikiran (iman), pelaksanan (islam), dan penyempurnaan (ihsan).
6. Melatih prinsip visualisasi dan simulasi/ prinsip lima (vision principle)
Sholat adalah sebuah visualisi atau simulasi kehidupan dan idealisme sebuah cita-cita luhur. Visi inilah pembimbang kehidupan. Semakin kuat visualisasi seseorang akan cita-citanya, maka semakin kuat juga keyakinan seseorang untuk meraihnya. Semakin kuat keyakinan seseorang, maka semakin tinggi juga energi dam kekuatan seseorang untuk meraih impiannya.
7. Melatih prinsip keteraturan/ prinsip enam (well organized principle)
Kunci dari prinsip keteraturan adalah sebuah disiplin. Tanpa sebuah kedisiplinan, maka tatanan akan hancur. Sholat adalah sarana untuk melatih sebuah kedesiplinan. Waktu sholat telah ditentukan dengan pasti, sehingga orang yang mampu melakukan sholat secara disiplin niscaya akan menjadi pribadi-pribadi yang memiliki disiplin tinggi.
D. Pengaruh Pembangunan Karakter Terhadap Profesi Guru
Apabila ditelusuri secara mendalam, proses belajar mengajar yang merupakan inti dari proses pendidikan formal disekolah didalamnya terjadi interaksi antara berbagai komponen pengajaran. Komponen-komponen itu adalah; (1) Guru; (2) Isi atau materi pelajaran; dan (3) Siswa. Interaksi antara ketiga komponen itu melibatkan sarana dan prasarana, seperti metode, media, dan penataan lingkungan, sehingga tercipta situasi belajar mengajar yang memungkinkan tercapainya tujuan yang telah direncanakan sebelumnya. Dengan demikian guru memegang peranan sentral dalam proses belajar mengajar.
Mengingat pentingnya tugas guru, maka guru harus memiliki sifat-sifat khusus atau karakter yang memungkinkan dalam pelaksanaan tugasnya bisa berjalan dengan sebaik-baiknya. Sifat-sifat itu diantaranya adalah:
1. Berair muka yang jernih (tidak murung)
2. Bersifat sabar
3. Bersungguh-sungguh dalam menjalankan tugasnya
4. Suaranya jelas dan berwibawa
5. Mampu memperhatikan dan mengendalikan kelas
Kaitannya dengan pembangunan karakter (caracter building) melalui sholat dengan profesi guru adalah, bahwa jika kita perhatikan akan pentingnya peranan guru dan
20 Maret 2009
Ahlus Sunnah Wal Jama'ah Sebagai Manhaj Al-Fikr
A. Pendahuluan
Ahlus Sunnah wal Jama’ah, semula adalah sebuah pemikiran teologis yang dicetuskan oleh ulama timur tengah pada abad awal Islam sebagai identifikasi terhadap kelompok yang memiliki truth claim sebagai pengikut utama nabi Muhammad saw. Truth Claim itu dimunculkan sebagai respon terhadap hadits nabi Muhammad “Sataftariqu ummaty ala tsalatsatin wa sab’ina firqoh, kulluhum fin nar, illa waahid” dan yang satu itu adalah Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Golongan inilah yang kemudian mengklaim sebagai kaum yang mengadopsi pola pikir dan nilai-nilai dasar ajaran Islam yang sesuai dengan kaidah perilaku nabi Muhammad SAW.
Klaim kebenaran sebenarnya adalah ciri dari setiap pemikiran keagamaan. Oleh karena itu tidak salah jika semua aliran pemikiran keagamaan mengklaim diri sebagai benar, termasuk sekte Qodariyah, Jabbariyah, Syi’ah, Murji’ah, Mu’tazilah dan Khawarij. Qodariyah yang berciri serba ihtiyar (freewill), Jabbariyah yang serba takdir (fatalistic), Murji’ah yang penting mengesakan Alloh, Khawarij yang serba mengkafirkan, Mu’tazilah yang serba kebebasan akal, dan Syi’ah yang serba imam. Aliran-aliran ini dalam praktik keagamaannya menjadi sangat ekslusif, sehingga siapapun yang tidak menjadi golongannya dianggap musuh.
Ditengah pertentangan pemikiran dan tindakan keberagaman itu, maka Ahlus Sunnah wal Jama’ah menawarkan pemikiran keagamaan yang secara teologis berada dalam kerangka pemikiran Maturidiyah dan Asy’ariyah, sedangkan dalam hukum Islam menggunakan pemikiran empat mdzab, yaitu madzab Maliki, Hambali, Hanafi dan Syafi’i. Corak pemikiran dan tindakan keagamaan yang menggunakan kerangka teologi dan ritual seperti ini kemudian mengklaim dirinya sebagai golongan Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Masing-masing madzab memang memiliki dominasi di wilayah-wilayah tertentu. Madzab Hambali sangat dominan di Arab saudi, Madzab Hanafi sangat dominan di wilayah Timur Tengah bagian utara, Madzab Maliki dominan di Afrika Utara, dan Madzab Syafi’i dominan di wilayah Asia Selatan dan Asia Tenggara. Secara geneologis, kemudian pengikut madzab-madzab ini disebut sebagai pengikut Ahlu Sunnah Wal-jama’ah.
Sedangkan Hadratus Syaikh KH Hasyim Asy’ari dalam Qonun Asasi, menyebutkan bahwa Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah suatu faham, aliran atau madzhab yang:
- Dalam akidah, mengikuti dan berpedoman kepada salah satu dari Imam Abu Hasan al- Asy’ari dan Imam Abu Mansur al-Maturidi
- Dalam ‘ubudiyah (praktek peribadatan) dan/atau Fiqh berpedoman kepada salah satu dari Imam yang 4 (empat), yakni: Abu Hanifah, Malik bin Anas, Muhammad bin Idris As-Syafi’i, dan Ahmad bin Hanbal
- Dalam bertashawuf mengikuti salah satu dari dua Imam; Abu Qasim al-Junaidi al-Baghdadi dan Abu Hamid Muhammad Al-Ghazali
B. Nilai-nilai Ajaran Ahlus Sunnah wal Jama’ah
Ahlus Sunnah wal Jama’ah muncul ditengah pertentangan pemikiran dan tindakan keberagamaan yang mana semua aliran pemikiran keagamaan mengklaim diri sebagai benar. Maka Ahlus Sunnah wal Jama’ah menawarkan sikap dan perilaku yang mampu menjadi penengah diantara banyaknya pemikiran dan tindakan ekstrem keberagaman. Sikap yang dimaksud mencakup (1) sikap at-tawwasuth dan i’tidal, (2) sikap at-tasammuh, (3) sikap at-tawazun, dan (4) amar ma’ruf nahi munkar.
Pertama, sikap tawasuth dan i’tidal sikap ini merupakan sikap tengah (moderat) yang berintikan pada prinsip hidup yang menjunjung tinggi keharusan berlaku adil dan lurus di tengah-tengah kehidupan bersama. Diharapkan dengan sikap dasar ini Ahlus Sunnah wal Jama’ah akan menjadi kelompok panutan dan pelopor yang bersikap dan bertindak lurus/adil/benar serta selalu bersifat membangun dan menghindari sikap dan/atau bentuk pendekatan yang bersifat tatharruf (ekstrim), radikal, anarkhis, bahkan teroris.
Kedua, sikap at-tasammuh, adalah sikap toleransi terhadap perbedaan pandangan, baik dalam masalah keagamaan, terutama hal-hal yang bersifat furu’ atau menjadi masalah khilafiyah, serta dalam masalah kemasyarakatan dan kebudayaan (kultur) adat istiadat, tradisi, dan kebiasaan.
Ketiga, sikap at-tawazun yakni sikap menjaga keseimbangan dalam berkhidmah, menyesuaikan, menyerasikan, menyelaraskan dalam berkhidmah kepada Allah, kepada sesama manusia, serta kepada lingkungan hidupnya. Menyelaraskan kepentingan masa lalu, masa kini dan masa yang akan datang.
Keempat, amar ma’ruf nahi munkar, sikap ini mengandung maksud selalu memiliki kepekaan untuk mendorong perbuatan baik yang berguna dan bermanfaat bagi kehidupan bersama; serta peka (sensitive) untuk menolak dan mencegah semua hal yang dapat menjerumuskan dan merendahkan nilai-nilai kehidupan.
C. Aswaja dan Tantangan Globalisasi
Dalam kehidupan beragama dan berbangsa, selalu kita temui dinamika sosio cultural yang mengharuskan kita untuk menyikapinya, seperti terjadinya arus globalisasi yang mengusung nilai-nilai kontemporer yang merambah ke semua sector kehidupan, seperti sekulerisme, materialisme, liberalisme, rasionalisme, kapitalisme, dan lain-lain.
Dalam merespon arus tersebut muncul beberapa sikap yang berbeda. Disatu sisi timbul kekhawatiran yang kuat yang memandang arus globalisasi dengan segala muatan nilai-nilai yang dibawanya akan memberi bencana besar terhadap keselamatan aqidah, serta sikap dan perilaku umat, sehingga perlu menutup diri dari pengaruh tersebut dan bersikap konfrontatif, melawan dan membenci secara total, dan bertahan dengan nilai-nilai lama yang dihayatinya. Apabila sikap tersebut dikuatkan dengan pemahaman ajaran agama yang penuh fanatisme dan ekstrem (al-ghuluwwu fid-diin), akan timbul sikap-sikap fundamentalis, bahkan seringkali terjadi sikap radikal yang berlebihan.
Lahirnya radikalisme, fundamentalisme, bahkan terorisme dalam suatu komunitas akhir-akhir ini banyak dipicu oleh akumulasi kekhawatiran, ketakutan, rasa ketidak adilan dan kebencian terhadap suatu arus kekuatan yang dinilai memberikan ancaman. Menghadapi fenomena seperi ini, kita harus bersikap cermat, kritis dan arif, berpegang pada karakter Ahlus Sunnah wal Jama’ah yang moderat (at-tawasuth), toleran (at-tasamuh), dan bersikap proporsional (at-tawaazun), dengan tetap konsisten dan berpegang teguh pada ajaran agama (al-i’tishom bi hablillah) dan komitmen terhadap sunnah Nabi (at-tamassuk bi sunnatin Nabiyyi). Dengan begitu kita tidak bersikap menutup diri dari peradaban modern dengan nilai-nilai yang dibawanya, tetapi lebih bersikap mengkritisi dan menyaring. Mana yang membawa mashlahah, dan yang mana yang memberi mafsadah.
Ahlus Sunnah wal Jama’ah, semula adalah sebuah pemikiran teologis yang dicetuskan oleh ulama timur tengah pada abad awal Islam sebagai identifikasi terhadap kelompok yang memiliki truth claim sebagai pengikut utama nabi Muhammad saw. Truth Claim itu dimunculkan sebagai respon terhadap hadits nabi Muhammad “Sataftariqu ummaty ala tsalatsatin wa sab’ina firqoh, kulluhum fin nar, illa waahid” dan yang satu itu adalah Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Golongan inilah yang kemudian mengklaim sebagai kaum yang mengadopsi pola pikir dan nilai-nilai dasar ajaran Islam yang sesuai dengan kaidah perilaku nabi Muhammad SAW.
Klaim kebenaran sebenarnya adalah ciri dari setiap pemikiran keagamaan. Oleh karena itu tidak salah jika semua aliran pemikiran keagamaan mengklaim diri sebagai benar, termasuk sekte Qodariyah, Jabbariyah, Syi’ah, Murji’ah, Mu’tazilah dan Khawarij. Qodariyah yang berciri serba ihtiyar (freewill), Jabbariyah yang serba takdir (fatalistic), Murji’ah yang penting mengesakan Alloh, Khawarij yang serba mengkafirkan, Mu’tazilah yang serba kebebasan akal, dan Syi’ah yang serba imam. Aliran-aliran ini dalam praktik keagamaannya menjadi sangat ekslusif, sehingga siapapun yang tidak menjadi golongannya dianggap musuh.
Ditengah pertentangan pemikiran dan tindakan keberagaman itu, maka Ahlus Sunnah wal Jama’ah menawarkan pemikiran keagamaan yang secara teologis berada dalam kerangka pemikiran Maturidiyah dan Asy’ariyah, sedangkan dalam hukum Islam menggunakan pemikiran empat mdzab, yaitu madzab Maliki, Hambali, Hanafi dan Syafi’i. Corak pemikiran dan tindakan keagamaan yang menggunakan kerangka teologi dan ritual seperti ini kemudian mengklaim dirinya sebagai golongan Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Masing-masing madzab memang memiliki dominasi di wilayah-wilayah tertentu. Madzab Hambali sangat dominan di Arab saudi, Madzab Hanafi sangat dominan di wilayah Timur Tengah bagian utara, Madzab Maliki dominan di Afrika Utara, dan Madzab Syafi’i dominan di wilayah Asia Selatan dan Asia Tenggara. Secara geneologis, kemudian pengikut madzab-madzab ini disebut sebagai pengikut Ahlu Sunnah Wal-jama’ah.
Sedangkan Hadratus Syaikh KH Hasyim Asy’ari dalam Qonun Asasi, menyebutkan bahwa Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah suatu faham, aliran atau madzhab yang:
- Dalam akidah, mengikuti dan berpedoman kepada salah satu dari Imam Abu Hasan al- Asy’ari dan Imam Abu Mansur al-Maturidi
- Dalam ‘ubudiyah (praktek peribadatan) dan/atau Fiqh berpedoman kepada salah satu dari Imam yang 4 (empat), yakni: Abu Hanifah, Malik bin Anas, Muhammad bin Idris As-Syafi’i, dan Ahmad bin Hanbal
- Dalam bertashawuf mengikuti salah satu dari dua Imam; Abu Qasim al-Junaidi al-Baghdadi dan Abu Hamid Muhammad Al-Ghazali
B. Nilai-nilai Ajaran Ahlus Sunnah wal Jama’ah
Ahlus Sunnah wal Jama’ah muncul ditengah pertentangan pemikiran dan tindakan keberagamaan yang mana semua aliran pemikiran keagamaan mengklaim diri sebagai benar. Maka Ahlus Sunnah wal Jama’ah menawarkan sikap dan perilaku yang mampu menjadi penengah diantara banyaknya pemikiran dan tindakan ekstrem keberagaman. Sikap yang dimaksud mencakup (1) sikap at-tawwasuth dan i’tidal, (2) sikap at-tasammuh, (3) sikap at-tawazun, dan (4) amar ma’ruf nahi munkar.
Pertama, sikap tawasuth dan i’tidal sikap ini merupakan sikap tengah (moderat) yang berintikan pada prinsip hidup yang menjunjung tinggi keharusan berlaku adil dan lurus di tengah-tengah kehidupan bersama. Diharapkan dengan sikap dasar ini Ahlus Sunnah wal Jama’ah akan menjadi kelompok panutan dan pelopor yang bersikap dan bertindak lurus/adil/benar serta selalu bersifat membangun dan menghindari sikap dan/atau bentuk pendekatan yang bersifat tatharruf (ekstrim), radikal, anarkhis, bahkan teroris.
Kedua, sikap at-tasammuh, adalah sikap toleransi terhadap perbedaan pandangan, baik dalam masalah keagamaan, terutama hal-hal yang bersifat furu’ atau menjadi masalah khilafiyah, serta dalam masalah kemasyarakatan dan kebudayaan (kultur) adat istiadat, tradisi, dan kebiasaan.
Ketiga, sikap at-tawazun yakni sikap menjaga keseimbangan dalam berkhidmah, menyesuaikan, menyerasikan, menyelaraskan dalam berkhidmah kepada Allah, kepada sesama manusia, serta kepada lingkungan hidupnya. Menyelaraskan kepentingan masa lalu, masa kini dan masa yang akan datang.
Keempat, amar ma’ruf nahi munkar, sikap ini mengandung maksud selalu memiliki kepekaan untuk mendorong perbuatan baik yang berguna dan bermanfaat bagi kehidupan bersama; serta peka (sensitive) untuk menolak dan mencegah semua hal yang dapat menjerumuskan dan merendahkan nilai-nilai kehidupan.
C. Aswaja dan Tantangan Globalisasi
Dalam kehidupan beragama dan berbangsa, selalu kita temui dinamika sosio cultural yang mengharuskan kita untuk menyikapinya, seperti terjadinya arus globalisasi yang mengusung nilai-nilai kontemporer yang merambah ke semua sector kehidupan, seperti sekulerisme, materialisme, liberalisme, rasionalisme, kapitalisme, dan lain-lain.
Dalam merespon arus tersebut muncul beberapa sikap yang berbeda. Disatu sisi timbul kekhawatiran yang kuat yang memandang arus globalisasi dengan segala muatan nilai-nilai yang dibawanya akan memberi bencana besar terhadap keselamatan aqidah, serta sikap dan perilaku umat, sehingga perlu menutup diri dari pengaruh tersebut dan bersikap konfrontatif, melawan dan membenci secara total, dan bertahan dengan nilai-nilai lama yang dihayatinya. Apabila sikap tersebut dikuatkan dengan pemahaman ajaran agama yang penuh fanatisme dan ekstrem (al-ghuluwwu fid-diin), akan timbul sikap-sikap fundamentalis, bahkan seringkali terjadi sikap radikal yang berlebihan.
Lahirnya radikalisme, fundamentalisme, bahkan terorisme dalam suatu komunitas akhir-akhir ini banyak dipicu oleh akumulasi kekhawatiran, ketakutan, rasa ketidak adilan dan kebencian terhadap suatu arus kekuatan yang dinilai memberikan ancaman. Menghadapi fenomena seperi ini, kita harus bersikap cermat, kritis dan arif, berpegang pada karakter Ahlus Sunnah wal Jama’ah yang moderat (at-tawasuth), toleran (at-tasamuh), dan bersikap proporsional (at-tawaazun), dengan tetap konsisten dan berpegang teguh pada ajaran agama (al-i’tishom bi hablillah) dan komitmen terhadap sunnah Nabi (at-tamassuk bi sunnatin Nabiyyi). Dengan begitu kita tidak bersikap menutup diri dari peradaban modern dengan nilai-nilai yang dibawanya, tetapi lebih bersikap mengkritisi dan menyaring. Mana yang membawa mashlahah, dan yang mana yang memberi mafsadah.
Sumber Belajar dalam Teknologi Pembelajaran
A. Pengertian Sumber Belajar
Pengajaran merupakan suatu proses sistemik yang meliputi banyak komponen. Salah satu komponen itu adalah sumber belajar. Dalam pengertian yang sederhana, sumber belajar (learning resources) adalah guru dan bahan-bahan pelajaran baik buku-buku bacaan atau semacamnya. Pengertian sumber belajar sesungguhnya tidak sesempit ini. Akan tetapi segala daya yang dapat dipergunakan untuk kepentingan proses pengajaran baik secara langsung maupun tidak langsung, diluar peserta didik (lingkungan) yang melengkapi diri mereka pada saat pengajaran berlangsung disebut sebagai sumber belajar.
Sedangkan Edgar Dale berpendapat bahwa, yang disebut sumber belajar adalah pengalaman. Pengalaman itui diklasifikasikan menurut jenjang tertentu, berbentuk kerucut pengalaman (cone of experience). Perjenjangan jenis-jenis pengalaman tersebut disusun dari yang kongkret sampai yang abstrak.
Bahwa pengalaman yang konkret perlu untuk setiap tingkat di atasnya. Setiap ide atau teori betapa pun abstraknya berasal dari alam konkret. Sebaliknya terlampau banyak pengalaman langsung mungkin dapat menghambat ketercapaian pengertiaan yang lebih abstrak. Karena itu, kedua-duanya (yang konkret dan yang abstrak) harus berjalan. Tidak selalu yang abstrak itu lebih sulit dari yang konkret. Malah yang konkret bisa mengacaukan yang abstrak. Peta/bagan sering lebih mudah daripada mengamati realitas sendiri. Makin tinggi kearah puncak kerucut semakin abstrak, tetapi tidak selalu tambah /lebih sulit.
B. Klasifikasi Sumber Belajar
AECT (Association of Education Communication Technology) melalui karyanya The Definition of Educational Technology (1977) mengklasifikasikan sumber belajar menjadi 6 macam;
1. Message (pesan), yaitu informasi/ajaran yang diteruskan oleh komponen lain dalam bentuk gagasan, fakta, arti, dan data. Termasuk dalam komponen pesan adalah semua bidang studi/mata kuliah atau bahan pengajaran yang diajarkan kepada peserta didik.
2. People (orang), yakni manusia yang bertindak sebagai penyimpan, pengolah, dan penyaji pesan, misalnya guru, dosen, peserta didik dsb.
3. Material (bahan), yaitu perangkat lunak yang mengandung pesan untuk disajikan melalui penggunan alat atau perangkat keras ataupun oleh dirinya sendiri. Misalnya, film, audio, majalah dsb.
4. Device (alat), yakni sesuatu (perangat keras) yang digunakan untuk menyampaikan pesan yang tersimpan dalam bahan. Misalnya, OHP, slide, radio dsb.
5. Technique (teknik), yaitu prosedur atau acuan yang dipersiapkan untuk penggunaan bahan, peralatan, orang, lingkungan untuk menyampaikan pesan. Misalnya, simulasi, demonstrasi, tanya jawab dsb.
6. Setting (lingkungan), yaitu situasi atau suasana sekitar dimana pesan disampaikan baik lingkungan fisik maupun nonfisik, misalnya kels, perpustakaan, tenang, ramai dsb.
Disamping itu, kita juga dapat mengklasifikasikan sumber belajar dari versi yang lain, yaitu:
1. menurut sifat dasarnya, sumber belajar ada 2 macam yaitu sumber insani (human) dan non-insani (non-human).
2. menurut segi pengembngnnya, sumber belajar ada 2 macam:
- Learning resources by design (sumber belajar yang dirancang untuk keperluan pengajaran).
- Learning resources by utilitarian (sumber belajar yang tidak dirancang untuk keperluan pengajaran.
C. Komponen dan Faktor Sumber Belajar
Sumber belajar dapat dipandang sebagai suatu sistem karena merupakan satu kesatuan yang didalamnya terdapat komponen-komponen dan faktor-faktor yang berhubungan dan saling berpengaruh satu sama lainnya. Yang dimaksud komponen adalah bagian-bagian yang selalu ada didalam sumber belajar itu dan bagian-bagian itu merupakan satu kesatuan yang sulit berdiri sendiri sekalipun dapat dipergunakan secara terpisah.
1. komponen-komponen sumber belajar:
a. tujuan, misi, atau fungsi sumber belajar
b. bentuk, format atau keadaan fisik sumber belajar
c. pesan yang dibawa oleh sumber belajar
d. tingkat kesulitan atau kompleksitas pemakaian sumber belajar
2. faktor-faktor yang berpengaruh kepada sumber belajar
a. perkembangan teknologi
b. nilai-nilai budaya setempat
c. keadaan ekonomi pada umumnya
d. keadaan pemakai
D. Penggunaan Sumber Belajar
Dalam rangka memanfaatkan sumber belajar secara luas, guru hendaknya memahami beberapa kualifikasi yang dapat menunjuk pada sesuatu untuk dipergunakan sebagai sumber belajar. Secara umum, sebelum menentukan sumber belajar, guru perlu mempertimbangkan hal-hal berikut ini:
1. ekonomis atau biaya, apakah ada biaya untuk penggunaan suatu sumber belajar (yang memerlukan biaya).
2. teknisi (tenaga), apakah guru atau pihak lain yang mengoperasikan alat yang digunakan sebagai sumber belajar.
3. bersifat praktis dan sederhana, yaitu mudah dijangkau dan mudah dilaksanakan.
4. bersifat fleksibel, maksudnya sumber belajar jangan bersifat kaku atau paten tapi harus mudah dikembangkan.
5. relevan dengan tujuan pengajaran
6. dapat membantu efisiensi dan kemudahan pencapaian tujuan pengajaran.
7. memiliki nilai positif bagi proses pengajaran khususnya bagi peserta didik.
8. sesuai dengan interaksi dan strategi pengajaran yang telah dirancang.
E. Kesimpulan
1. Sumber belajar adalah segala daya yang dapat dipergunakan untuk kepentingan proses pengajaran baik secara langsung maupun tidak langsung, diluar peserta didik (lingkungan) yang melengkapi diri mereka pada saat pengajaran berlangsung. Sedangkan Edgar Dale berpendapat bahwa, yang disebut sumber belajar adalah pengalaman.
2. Sumber belajar diklasifikasikan menjadi 6 yaitu: Message, People, Material, Device, Technique, Setting. Selain itu juga bisa diklasifikasikan menjadi; human dan non-human, serta sumber belajar yang dirancang dan tidak dirancang.
3. komponen-komponen sumber belajar: Tujuan, bentuk, pesan yang dibawa, tingkat kesulitan pemakaian sumber belajar. Sedangkan faktor-faktor yang berpengaruh kepada sumber belajar adalah: perkembangan teknologi, nilai-nilai budaya setempat, keadaan ekonomi pada umumnya, dan keadaan pemakai
4. Dalam rangka memanfaatkn sumber belajar secara luas, guru hendaknya memahami beberapa kualifikasi yang dapat menunjuk pada sesuatu untuk dipergunakan sebagai sumber belajar.
Pengajaran merupakan suatu proses sistemik yang meliputi banyak komponen. Salah satu komponen itu adalah sumber belajar. Dalam pengertian yang sederhana, sumber belajar (learning resources) adalah guru dan bahan-bahan pelajaran baik buku-buku bacaan atau semacamnya. Pengertian sumber belajar sesungguhnya tidak sesempit ini. Akan tetapi segala daya yang dapat dipergunakan untuk kepentingan proses pengajaran baik secara langsung maupun tidak langsung, diluar peserta didik (lingkungan) yang melengkapi diri mereka pada saat pengajaran berlangsung disebut sebagai sumber belajar.
Sedangkan Edgar Dale berpendapat bahwa, yang disebut sumber belajar adalah pengalaman. Pengalaman itui diklasifikasikan menurut jenjang tertentu, berbentuk kerucut pengalaman (cone of experience). Perjenjangan jenis-jenis pengalaman tersebut disusun dari yang kongkret sampai yang abstrak.
Bahwa pengalaman yang konkret perlu untuk setiap tingkat di atasnya. Setiap ide atau teori betapa pun abstraknya berasal dari alam konkret. Sebaliknya terlampau banyak pengalaman langsung mungkin dapat menghambat ketercapaian pengertiaan yang lebih abstrak. Karena itu, kedua-duanya (yang konkret dan yang abstrak) harus berjalan. Tidak selalu yang abstrak itu lebih sulit dari yang konkret. Malah yang konkret bisa mengacaukan yang abstrak. Peta/bagan sering lebih mudah daripada mengamati realitas sendiri. Makin tinggi kearah puncak kerucut semakin abstrak, tetapi tidak selalu tambah /lebih sulit.
B. Klasifikasi Sumber Belajar
AECT (Association of Education Communication Technology) melalui karyanya The Definition of Educational Technology (1977) mengklasifikasikan sumber belajar menjadi 6 macam;
1. Message (pesan), yaitu informasi/ajaran yang diteruskan oleh komponen lain dalam bentuk gagasan, fakta, arti, dan data. Termasuk dalam komponen pesan adalah semua bidang studi/mata kuliah atau bahan pengajaran yang diajarkan kepada peserta didik.
2. People (orang), yakni manusia yang bertindak sebagai penyimpan, pengolah, dan penyaji pesan, misalnya guru, dosen, peserta didik dsb.
3. Material (bahan), yaitu perangkat lunak yang mengandung pesan untuk disajikan melalui penggunan alat atau perangkat keras ataupun oleh dirinya sendiri. Misalnya, film, audio, majalah dsb.
4. Device (alat), yakni sesuatu (perangat keras) yang digunakan untuk menyampaikan pesan yang tersimpan dalam bahan. Misalnya, OHP, slide, radio dsb.
5. Technique (teknik), yaitu prosedur atau acuan yang dipersiapkan untuk penggunaan bahan, peralatan, orang, lingkungan untuk menyampaikan pesan. Misalnya, simulasi, demonstrasi, tanya jawab dsb.
6. Setting (lingkungan), yaitu situasi atau suasana sekitar dimana pesan disampaikan baik lingkungan fisik maupun nonfisik, misalnya kels, perpustakaan, tenang, ramai dsb.
Disamping itu, kita juga dapat mengklasifikasikan sumber belajar dari versi yang lain, yaitu:
1. menurut sifat dasarnya, sumber belajar ada 2 macam yaitu sumber insani (human) dan non-insani (non-human).
2. menurut segi pengembngnnya, sumber belajar ada 2 macam:
- Learning resources by design (sumber belajar yang dirancang untuk keperluan pengajaran).
- Learning resources by utilitarian (sumber belajar yang tidak dirancang untuk keperluan pengajaran.
C. Komponen dan Faktor Sumber Belajar
Sumber belajar dapat dipandang sebagai suatu sistem karena merupakan satu kesatuan yang didalamnya terdapat komponen-komponen dan faktor-faktor yang berhubungan dan saling berpengaruh satu sama lainnya. Yang dimaksud komponen adalah bagian-bagian yang selalu ada didalam sumber belajar itu dan bagian-bagian itu merupakan satu kesatuan yang sulit berdiri sendiri sekalipun dapat dipergunakan secara terpisah.
1. komponen-komponen sumber belajar:
a. tujuan, misi, atau fungsi sumber belajar
b. bentuk, format atau keadaan fisik sumber belajar
c. pesan yang dibawa oleh sumber belajar
d. tingkat kesulitan atau kompleksitas pemakaian sumber belajar
2. faktor-faktor yang berpengaruh kepada sumber belajar
a. perkembangan teknologi
b. nilai-nilai budaya setempat
c. keadaan ekonomi pada umumnya
d. keadaan pemakai
D. Penggunaan Sumber Belajar
Dalam rangka memanfaatkan sumber belajar secara luas, guru hendaknya memahami beberapa kualifikasi yang dapat menunjuk pada sesuatu untuk dipergunakan sebagai sumber belajar. Secara umum, sebelum menentukan sumber belajar, guru perlu mempertimbangkan hal-hal berikut ini:
1. ekonomis atau biaya, apakah ada biaya untuk penggunaan suatu sumber belajar (yang memerlukan biaya).
2. teknisi (tenaga), apakah guru atau pihak lain yang mengoperasikan alat yang digunakan sebagai sumber belajar.
3. bersifat praktis dan sederhana, yaitu mudah dijangkau dan mudah dilaksanakan.
4. bersifat fleksibel, maksudnya sumber belajar jangan bersifat kaku atau paten tapi harus mudah dikembangkan.
5. relevan dengan tujuan pengajaran
6. dapat membantu efisiensi dan kemudahan pencapaian tujuan pengajaran.
7. memiliki nilai positif bagi proses pengajaran khususnya bagi peserta didik.
8. sesuai dengan interaksi dan strategi pengajaran yang telah dirancang.
E. Kesimpulan
1. Sumber belajar adalah segala daya yang dapat dipergunakan untuk kepentingan proses pengajaran baik secara langsung maupun tidak langsung, diluar peserta didik (lingkungan) yang melengkapi diri mereka pada saat pengajaran berlangsung. Sedangkan Edgar Dale berpendapat bahwa, yang disebut sumber belajar adalah pengalaman.
2. Sumber belajar diklasifikasikan menjadi 6 yaitu: Message, People, Material, Device, Technique, Setting. Selain itu juga bisa diklasifikasikan menjadi; human dan non-human, serta sumber belajar yang dirancang dan tidak dirancang.
3. komponen-komponen sumber belajar: Tujuan, bentuk, pesan yang dibawa, tingkat kesulitan pemakaian sumber belajar. Sedangkan faktor-faktor yang berpengaruh kepada sumber belajar adalah: perkembangan teknologi, nilai-nilai budaya setempat, keadaan ekonomi pada umumnya, dan keadaan pemakai
4. Dalam rangka memanfaatkn sumber belajar secara luas, guru hendaknya memahami beberapa kualifikasi yang dapat menunjuk pada sesuatu untuk dipergunakan sebagai sumber belajar.
Langganan:
Komentar (Atom)