Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang dialami oleh manusia sekarang ini, tidak sedikit dampak negatifnya terhadap sikap hidup dan perilakunya; baik ia sebagai manusia yang beragama, maupun sebagai makhluk individual dan sosial. Dampak negatif yang paling berbahaya terhadap kehidupan manusia atas kemajuan yang dialaminya, ditandai dengan adanya kecenderungan menganggap bahwa satu-satunya yang dapat membahagiakan hidupnya adalah nilai material. Sehingga manusia terlampau mengejar materi, tanpa menghiraukan nilai-nilai spiritual yang sebenarnya berfungsi untuk memelihara dan mengendalikan akhlak manusia.
Nilai-nilai spiritual yang dimaksudkan dalam Islam adalah ajaran agama yang berwujud perintah, larangan dan anjuran; yang kesemuanya berfungsi untuk membina kepribadian manusia dalam kaitannya sebagai hamba Allah serta anggota masyarakat.
Mengejar nilai-nilai material saja, tidak bisa dijadikan sarana untuk mencapai kebahagiaan hakiki. Bahkan hanya menimbulkan bencana yang hebat, karena orientasi hidup manusia semakin tidak mempedulikan kepentingan orang lain, asalkan materi yang dikejar-kejarnya dapat dikuasainya dan akhirnya timbul persaingan hidup yang tidak sehat. Sementara manusia tidak memerlukan lagi agama untuk mengendalikan segala perbuatannya, karena dianggapnya tidak dapat digunakan untuk memecahkan persoalan hidupnya.
Disini kita akan tahu betapa pentingnya aqidah dalam kehidupan modern ini. Aqidah akan menjadi benteng yang kuat dalam menghadapi segala dampak negatif kehidupan modern ini. Disampaing aqidah yang kuat, akhlak yang terpuji akan menyelamatkan manusia dari segala macam perbuatan dan tindakan yang bisa menjerumuskan manusia dalam kesesatan.
Aqidah akhlak terdiri dari dua kata yaitu aqidah dan akhlak. Secara etimologis, Aqidah berasal dari kata aqada – ya’qidu (kamus Al-Munawwir) yang berarti simpul, ikatan, perjanjian, dan kokoh. Setelah menjadi aqidah adalah keyakinan itu tersimpul dengan kokoh dalam hati, bersifat mengikat dan mengandung perjanjian.
Mahmud Syaltut mendefinisikan bahwa aqidah Islam adalah “suatu sistem kepercayaan dalam Islam, yakni sesuatu yang harus diyakini sebelum apa-apa dan sebelum melakukan apa-apa tanpa ada keraguan sedikitpun dan tanpa ada unsur yang mengganggu kebersihan keyakinan.
Adapun pengertian akhlak secara bahasa adalah budi pekerti, perangai, tingkah laku atau tabiat. Sedangkan menurut Imam Ghozali, akhlak adalah sifat yang tertanam dalam jiwa manusia yang dapat meniumbulkan perbuatan dengan gampang dan mudah tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan.
Sedangkan fungsi aqidah akhlak dalam Islam antara lain adalah sebagai berikut:
1. untuk berbuat baik kepada Sang Pencipta
2. Untuk menyelamatkan diri dari segala dosa
3. Untuk selalu bertindak baik kepada sesama manusia
4. Untuk dapat memberatkan timbangan kebaikan di hari akhir
Pelajaran aqidah akhlak merupakan bagian fundamental bagi setiap orang-orang yang beriman. Pelajaran Aqidah Akhlak merupakan penjabaran materi yang ada di Kurikulum 2004. Dengan akhlak yang mulia dapat membuahkan kesadaran diri yang tinggi, memberi motivasi, menjalin tali persaudaraan antar sesama umat manusia. Dalam Hadits Nabi diterangkan sebagai berikut:
إنَّمَا بُعِثتُ ِلأُتمِّمَ مَكَارِمَ الأَخلاقِ (رواه البخارى حاكم وبيهقى)
Artinya:
“Sesungguhnya Aku (Muhammad) diutus ke dunia ini untuk menyempurnakan Akhlak yang mulia”. (H. R. Bukhori, Hakim dan Baihaqi)
Hadits ini menerangkan bahwa Rosulullah diutus oleh Allah di muka bumi ini untuk memperbaiki atau menyempurnakan akhlak umat manusia. Sehingga sangat diharuskan setiap umat manusia berakhlak mulia dan tidak berakhlak buruk atau tercela.
Dalam agama Islam, orang Islam sangat dianjurkan untuk bisa hidup kreatif dan orang kreatif cenderung suka memberikan manfaat terhadap orang lain. Contoh mengutamakan orang lain, meringankan beban orang lain, tidak menjadi beban orang lain, ramah tamah dan selalu menjaga kebiasaan baik yang berdasar norma-norma Islam.
Contoh perilaku yang terpuji dan akhlakul karimah:
1. Tolong menolong dalam kebaikan.
Dalam kehidupan beragama dan bermasyarakat manusia diwajibkan untuk hidup damai, guyup dan rukun saling menghargai, saling menghormati dan saling bantu membantu dalam kebaikan dan kebenaran. Hal yang demikian ini termasuk sebagian dari kunci ketentraman Negara. Sebagaimana firman Allah SWT dalam surat Al-Maidah ayat yang artinya:
"Dan tolong menolonglah kamu dalam kebajikan dan takwa dan jangan tolong menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran (permusuhan)”. (Q.S Al Maidah: 2)
Dari ayat tersebut jelas bahwa manusia untuk selalu berbuat yang baik, terpuji dan dilarang untuk menolong dalam perbuatan yang dilarang oleh agama ataupun Negara.
2. Menjalin tali persaudaraan. Sabda Rosulullah Saw.
Dalam Islam sangat dianjurkan untuk melestarikan hubungan tali persaudaraan (ukhuwah islamiyah). Sebagaimana sabda Rasululloh SAW:
مَن أحَبَّ أن يُبسَطَ لَهُ فِى رِزقِهِ وَ أن يُنسَأ لَهُ فِى آثَرِهِ فَليَصِّل رَحِمَهُ (رواه البخارى)
Artinya:
“Barang siapa yang ingin diluaskan rizkinya dan dipanjangkan umurnya maka bersilaturohmilah”. (H.R. Bukhori)
Dari hadits ini ternyata mengandung hikmah yang sangat bermanfaat. Allah akan melapangkan rizkinya, hartanya, kekayaanya dan masih akan ditambah panjang umurnya, selagi tidak malas-malas bersilaturahmi.
3. Berbuat baik kepada kedua orang tua.
Kedua orang tua adalah sebagai lantaran terjadinya atau adanya manusia. Maka sangat dosa bagi mereka yang tidak berlaku sopan kepada kedua orang tuanya.
Nabi Muhammad SAW menganjurkan untuk beramal sholeh dan mendoakan kepadanya. Sebagaimana hadits nabi yang di riwayatkan oleh Bukhori yang artinya:
“Apabila anak cucu adam itu meninggal, maka putuslah segala amalnya, kecuali 3 perkara, yaitu shodaqoh jariyah, atau ilmu yang bermanfaat atau anak sholeh yang mendo’akan kepadanya.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar